BUDAYA POSITIF

 BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH

Muttaqiah, MPd
CGP Angkatan 6 Kabupaten Banjar
SMP Negeri 6 Martapura

Sekolah merupakan tempat atau wadah untuk mengembangkan kreativitas dan tempat untuk memperoleh pengetahuan dan membentuk keterampilan. Sekarang  bagaimanakah sekolah bisa menjadi tempat yang bisa mengembangkan kreativitas, bisa menjadi tempat yang mudah untuk memperoleh pengetahuan dan dapat membentuk keterampilan. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran guru , tenaga pendidik , murid, wali murid agar sekolah bisa tempat yang nyaman untuk mereka berkembang. 

Displin  positif adalah bagian dari pembentukan budaya positif disekolah dengan tujuan menanamkan motivasi pada anak didik kita untuk mejadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya, ketika mereka sudah memiliki motivasi tersebut, maka akan memiliki dampak jangka panjang, mereka tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah, mereka akan tetap berperilaku baik yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan, karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai -nilai yang mereka hargai atau mencapai suatu tujuan mulia.

Menurut Ki Hajar Dewantara maupun Diane Gossen mengartikan bahwa disiplin sebagai bentuk kontrol diri, yaitu belajar untuk kontrol diri agar dapat mencapai tujuan mulia. Pada dasarnya perilaku manusia didasari oleh tiga motivasi didalam dirinya menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring school discipline, yaitu :

1. Untuk menghindari ketidaknyaman dan hukuman. Motivasi ini merupakan motivasi terendah dari perilaku manusia. Motivasi ini bersifat eksternal

2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Motivasi ini setinggkat lebih tinggi dari motivasi pertama, mereka bertindak hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain, mendapatkan hadiah, pengakuan atau imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal

3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Orang yang memiliki motivasi ini, mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan mereka hargai. Motivasi inilah yang akan membuat seseorang berdisiplin positif dan motivasinya bersifat internal.

Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Kata disiplin merupakan identitas sukses sedangkan hukuman adalah identitas gagal. Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba, bersifat satu arah  guru memberikan dan murid yang menerima hukuman tanpa melalui kesepakatan. Sementara konsekuensi sudah terencana dan sudah disepakatindan disetujui oleh murid dan guru. Alfie Kohn Mengemukakan  baik penghargaan maupun hukuman adalah cara-cara mengontro perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesugguhnya

Sebuah Pendekatan untuk menciptakan disipline positif adalah Restitusi, yaitu proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali ke kelompoknya, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen ; 2004) atau yang lebih dikenal istilah lima posisi kontrol. yang perlu diterapkan guru, orang tua maupun atasan , yaitu, Penghukum, membuat mereka bersalah, teman, Pemantau dan Manejer.

Langkah-langkah segitiga restitusi adalah

1. Menstabilkan identitas (Stabilize the identitiy)

2. Validasi tindakan yang salah (Validate the Misbehavior)

3. Menanyakan keyakinan ( Seek the Belief)




Komentar